“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku” (QS. Az Zariyat 11). Berdasarkan ayat di atas tujuan utama jin dan manusia diciptakan Allah adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.
Seorang muslim ketika memahami bahwa tujuan hidupnya adalah ibadah, maka kehidupannya tidak akan terombang ambing, dia akan beriltizam semaksimal mungkin agar seluruh aktivitas yang dilakukannya bernilai ibadah serta selalu mengharapkan ridha Allah SWT. Komitmen ini selalu diikrarkan dalam shalat, “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam”.
Makna Ibadah
Apa ibadah itu? Sebuah pertanyaan singkat, namun besar kemungkinan banyak diantara umat Islam tidak paham maknanya. Kata ibadah berasal dari bahasa Arab ‘abada- ya’budu- ibadatun. Secara bahasa artinya patuh atau tunduk, sedangkan menurut istilah ibadah adalah patuh kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah, menjauhi larangan-Nya sebagaimana yang disampaikan melalui lisan para Rasul-Nya.
Secara rinci ibadah itu terbagi tiga, yaitu ibadah qalbiyah ibadah yang dilakukan dalam hati seperti khauf, raja, mahabbah, tawakkal. Kemudian ibadah qalbiyah lisaniyah yaitu ibadah yang dilakukan dalam hati sekaligus mensinkronkan dengan lisan seperti bertasbih, tahlil, takbir, tahmid, ungkapan rasa syukur dan ibadah yang diniatkan dalam hati, dilakukan melalui anggota badan seperti shalat, puasa, zakat, haji, jihad.
Secara luas makna ibadah itu adalah semua bentuk perbuatan amaliah yang disukai dan dicintai Allah melalui perkataan dan perbuatan, baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau pun dilakukan secara terang-terangan. Pendek kata seluruh bentuk ketaatan yang dilakukan dalam hati, lisan dan anggota tubuh manusia, serta dilakukan untuk mengharapkan ridha Allah SWT adalah “ibadah”.
Dalam praktek sehari-hari yang termasuk katagori ibadah antara lain, berzikir, bertasbih, tahlil, membaca ayat suci al Quran, shalat, puasa, zakat, haji, jihad, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, berbuat baik kepada karib kerabat, orang tua, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, berbuat ihsan kepada ibnu sabil, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, sabar, ridha terhadap qada’ dan qadar-Nya. Tawakkal hanya kepada Allah, mengharap rahmat dan takut azab-Nya, taubat, istighfar. Sampai-sampai kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dianggap sebagai ibadah seperti makan, minum, jual beli, nikah dan lain sebagainya. Inilah makna ibadah yang dapat kita pahami secara luas.
Syarat Ibadah
Kewajiban seorang hamba terhadap rabbi-Nya adalah beribadah hanya kepada sang pencipta alam semesta dan menjauhi syirik. Selagi hayat masih dikandung badan maka kita harus memperbanyak amal ibadah dan kesempatan itu hanya ada ketika manusia berada di muka bumi. Dalam menjalankan praktek ibadah, seorang muslim harus tahu benar beberapa syarat agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia dan diterima Allah SWT. Ada dua syarat pokok diterimanya ibadah, yaitu:
1. Ikhlas
Beberapa ulama memberikan definisi ikhlas, ada yang mengatakan ikhlas artinya memurnikan segala niat dan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dari segala hal yang dapat menyebabkan terjadinya cela. Ada juga mengartikan ikhlas dengan menunggalkan Allah SWT ketika berniat akan mengerjakan ketaatan. Pendapat lain menjelaskan bahwa ikhlas itu melupakan perhatian terhadap makhluk karena memandang sang Khalik.
Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya agar selalu ikhlas beramal, karena amal yang dilakukan tidak mengharapkan ridha-Nya ditolak. Hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah, tatkala itu ada seorang lelaki mendatangi beliau kemudian bertanya, “apa pendapatmu tentang seseorang yang ikut berperang karena mencari pahala dan berzikir, apa balasan yang akan diterimanya?” Rasulullah SAW bersabda, “Dia tidak akan mendapatkan apa-apa”. Beliau mengulanginya sampai tiga kali, setelah itu beliau bersabda, “Dia tidak mendapatkan apa-apa”. Kemudian beliau bersabda,” Sesungguhnya Allah azza wajalla tidak menerima sebuah amalan kecuali yang dikerjakan dengan murni dan hanya mengharapkan ridha-Nya” (HR. Abu Daud dan an-Nasai).
Ikhlas adalah membersihkan hati dari berbagai unsur yang dapat mendatangkan aib atau cela baik sedikit ataupun banyak, sehingga amalan yang dilakukan benar-benar mengharapkan ridha Allah serta bertujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Bukan karena motif lain, ada udang di balik batu. Karena ingin dilihat orang bahwa dirinya berpihak kepada rakyat kecil, membantu mereka yang susah dan miskin hidupnya, lantas sering memberikan bantuan, bingkisan, sumbangan, namun di balik itu ternyata dia ingin mendapatkan simpati dan dukungan agar dirinya terpilih menjadi pejabat.
Ada lagi yang rajin ke masjid tapi niatnya biar diangkat menjadi pengurus masjid, rajin shalat ke masjid biar dibilang orang alim, nampak oleh calon mertua. Berangkat haji biar dipanggil bu hajjah atau pak haji. Orang-orang yang melakukan praktek ibadah seperti ini telah disindir Allah dalam al Quran, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”(QS. Al-Kahfi 18: 103-104).
Rasulullah telah mengingatkan kita satu penyakit yang akan menggerogoti amal seseorang yaitu riya dan sum’ah. Riya artinya beramal karena ingin dilihat orang, sedangkan sum’ah beramal karena ingin didengar orang lain. Oleh sebab itu seorang muslim akan sukses dan mampu beramal dengan ikhlas manakala dia mampu menghancurkan ambisi duniawinya, berkonsentrasi penuh menggapai kehidupan akhirat dan hanya berharap kepada ridha Allah Yang Maha Kuasa.
2. Mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasulullah SAW)
Perkara-perkara yang berkenaan dengan ibadah dan aqidah adalah tauqifiyyah artinya harus disertai dengan dalil-dalil yang jelas, bersumberkan dari al Quran dan as-Sunnah. Dalam hal ibadah referensi yang jelas ada pada diri Rasul, karena hanya beliaulah satu-satunya orang yang paling mengerti tentang syariat Islam. Rasulullah SAW merupakan tauladan dalam segala hal, tidak hanya masalah ibadah saja tetapi aqidah maupun muamalah.
Saudaraku seiman dan seakidah, perbanyaklah ibadah, lakukanlah dengan ikhlas mengharapkan ridha-Nya kemudian ikutilah tuntunan baginda Rasulullah SAW, insya Allah amal ibadah kita akan diterima-Nya. “Barangsiapa beramal yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalnya ditolak” (HR. Muttafaq Alaih). Wallahu A’lamu.
Hernha
Contact Us
Dusun Wanasuka
Desa Cidolog, Kecamatan Cidolog
Ciamis - Indonesia 46352
Desa Cidolog, Kecamatan Cidolog
Ciamis - Indonesia 46352
Kotak Pesan
Radio Rodja Cileungsi - 756 am
Radio Assunnah Cirebon 92.3 FM
Pengikut
Rabu, 20 Januari 2010
Syarat Diterimanya Ibadah
Diposting oleh
Hernha
di
10:46:00 AM
Label: Setetes Embun
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jangan Lupa Waktu
Kategori
- Informasi (1)
- Setetes Embun (13)
Bagaimana Blog Ini ?
Isi Blog
-
▼
2010
(14)
-
▼
Januari
(14)
- UMROH BARENG USTADZ JEFRI AL-BUKHORI
- Menyikapi Marah
- Harta dan Kemuliaan
- Menghindari Sikap Ceroboh
- Karakteristik Bulan Muharram
- GUE ANAK JENDRAL
- Khutbah Terakhir Rasulullah SAW
- Keistimewaan wanita dalam pandangan Islam
- Pohon dalam Diri
- Syarat Diterimanya Ibadah
- Memahami bahaya Ghazul Fikr (Perang Pemikiran)
- Hakikat Cinta Dan Benci
- Lebih besar mana musibah dunia atau musibah agama?
- Khalifah Umar Bin Khattab dan Penggali Parit
-
▼
Januari
(14)

0 komentar:
Posting Komentar