Sabtu, 23 Januari 2010

UMROH BARENG USTADZ JEFRI AL-BUKHORI

Ikutilah Umroh Bareng UJE. Keberangkatan 28 April – 6 Mei 2010 dengan fasilitas Hotel Bintang 5.



HOTEL

Makkah : Zam-Zam Tower

Madinah : Royal Diyar

Jeddah : Holiday Inn

HARGA

Quard : US$ 1.700 (1 Kamar ber-4)

Tripple : US$ 1.750 (1 Kamar ber-3)

Double : US$ 1.800 (1 Kamar ber-2)



Harga tidak termasuk fiskal Rp. 2.500.000 (Kalau belum ada NPWP) dan Airport Tax & Handling Rp. 650.000



Ø Makanan ala Indonesia disajikan secara prasmanan.

Ø Harga sudah termasuk perlengkapan umroh (travel bag, seragam, buku manasik, ihrom / mukena dan 5 liter air zam-zam.



PERSYARATAN UMROH

Ø Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang muka minimal US$ 500

Ø Menyerahkan dokumen yang diperlukan:

a. Paspor asli yang masih berlaku minimal 6 bulan, nama minimal 3 suku kata, contoh: Muhammad Ali Nurdin

b. Penambahan 1 suku kata di paspor biaya Rp. 200.000

c. Fotocopy KTP

d. Kartu keluarga asli

e. Surat nikah asli bagi suami-istri

f. Akte lahir asli bagi anak-anak / ijazah

g. Pasfoto berwarna latar belakang putih, fokus muka 80%: 3x4: 5 lembar, 4x6: 5 lembar

h. Biaya Rp. 200.000 untuk pembuatan surat mahram bagi wanita yang berangkat sendiri / tidak disertai suami.


( Dikutip dari komunitas Ustad Jefri di Facebook )

Rabu, 20 Januari 2010

Menyikapi Marah

"Dan bersegeralah menuju ampunan Allah yang memiliki surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang suka menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran [3]: 134) Dari Abu Hurairah, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, "Berilah nasihat kepadaku." Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu marah." Lalu Rasulullah mengulanginya, "Janganlah kamu marah."

Demikian pula dalam Hadis lain disebutkan, "Tidaklah seseorang dikatakan pemberani karena cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah orang yang dapat menguasai diri dan nafsunya ketika marah." Sekuat apapun ibadah ritual seseorang, jikalau dia pemarah, maka tetap akan rusak imannya. Kerugian pemarah di antaranya adalah dalam pergaulan ia tak disukai karena para pemarah itu wajahnya tampak tak menyenangkan. Kata-katanya pun kotor dan keji. Bahkan sampai-sampai ia pun seringkali tak sadar apa yang dikatakannya.

Kalau seorang pemarah menjadi pemimpin maka dia tidak akan sukses sebab dia akan diikuti bukan karena kemuliaannya, tapi karena ditakuti. Keputusannya cenderung tak adil karena seringkali emosional. Bila berbeda pendapat, selalu ingin memuntahkan ketidaksukaannya. Singkatnya, pemimpin yang pemarah sebenarnya sedang menunggu waktu untuk jatuh. Seorang ibu yang pemarah akan menularkan budaya buruk terhadap anak-anaknya. Keturunannya akan memiliki dua kemungkinan. Pertama, menjadi pendiam dan beku karena stres.

Kedua, menjadi kasar dan suka berontak. Kalau banyak guru yang pemarah, maka tak usah heran bila murid-muridnya sering tawuran. Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah para gurunya kurang mampu memberikan teladan dan menyejukkan hati para muridnya. Pendek kata, para pemarah itu akan membawa bala dan ini tak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Lalu, bagaimana Rasulullah yang mulia menyikapi marah? Bila masalah pribadi yang dihina, maka beliau selalu memaafkan. Tetapi bila masalah agama dihina, maka beliau akan marah dan selalu siap membela.

Beliau sempat marah ketika perang Hunain berakhir karena kaum Anshar merasa kecewa dan menganggap Rasul tidak adil. Penyebabnya adalah pembagian ghanimah yang sebagian besar diberikan kepada kaum Muhajirin, orang-orang yang baru masuk Islam di Mekkah, dan bukan kepada kaum Anshar. Rasulullah kala itu memerah mukanya sampai-sampai berkata, "Jikalau Allah dan Rasul-Nya dianggap tak adil, maka siapa lagi yang adil. Padahal mereka pulang dengan hanya membawa harta, sedangkan kalian pulang dengan membawa Rasulullah."

Singkat tetapi mempunyai makna mendalam dan tak menyakiti siapapun, bahkan membangkitkan kesadaran. Rasul marah dengan alasan dan cara yang benar, juga pada saat yang tepat, hingga hasilnya bermanfaat. Allah memang menciptakan manusia dengan 'software' gembira dan cinta, juga perasaan sedih dan marah. Dengan marah kita bisa membela keluarga, agama, atau orang-orang yang lemah. Misalnya dalam perang melawan yang batil --emosi termasuk salah satu bagian penting. Jika tidak, justru berbahaya karena tak bisa membela atau membangkitkan semangat.

Pemarah itu ada empat jenis. Pertama, orang yang cepat marahnya, tapi lambat redanya. Kedua, orang yang lambat marahnya dan lambat pula redanya. Ketiga, orang yang cepat marahnya dan cepat pula redanya. Keempat, orang yang lambat marahnya, tapi cepat redanya. Tentunya kita berupaya untuk memilih yang terakhir. Maka dari itu tahanlah sekuat-kuatnya jikalau kita akan marah. Perbanyak istighfar, ta`awudz, atau segera berwudhu. Jangan biarkan kita berada di tempat yang memancing kemarahan. Kalau sudah telanjur marah sebaiknya bertobat.

Kalaupun harus marah, niatnya adalah bagaimana agar orang yang bersalah bisa berubah menjadi lebih baik tanpa terlukai, tanpa kita berbuat zalim. Kemudian janganlah sekali-kali menyikapi orang yang sedang marah dengan kemarahan lagi. Maklumi dan pahamilah terlebih dahulu. Memahami bukan berarti melazimkan atau melayakkan sifat pemarah, tetapi untuk meminimalisasi peluang untuk saling merusak.

Duhai Allah, ampuni dosa-dosa yang telah kami perbuat dengan lisan ini. Ampuni jikalau kemarahan kami menzalimi dan menjadi bencana bagi hamba-hamba-Mu. Ya Allah, karuniakan kepada kami kesanggupan menahan lisan ini dari kemungkaran. Kesanggupan menjaga amarah dan memaafkan orang-orang yang menyakiti kami. Ya Allah, selamatkan umat dan bangsa ini dari amarah yang membawa bala dan bencana.

Harta dan Kemuliaan

Ada dua kisah nyata tentang orang-orang yang menempuh jalan fujur dan jalan takwa. Ia adalah anak seorang raja. Kerajaannya waktu itu dapat dikatakan tidak terlalu besar dan terletak di daerah keras iklim dan tanahnya. Raja-raja nenek moyangnya selama berabad-abad selalu mengganggu negara-negara tetangganya yang ada disebelah selatan, tenggara dan timur negaranya. Kerajaannya betul-betul di tengah-tengah daratan dan tidak ada laut disekitarnya. Sang anak memiliki obsesi untuk bisa hidup penuh kenikmatan duniawi. Ia melihat kerajaannya tak akan bisa memenuhi ambisinya itu.

Maka ia berlatih perang hingga ia memiliki ketrampilan perang yang luar biasa. Semua tentara di negeri itu dilatih sungguh-sungguh hingga trampil berperang.Cita-cita hidupnya adalah memperoleh kenikmatan hidup sebesar-besarnya. Ia gantikan ayahnya, dan ia pindahkan singgasananya dari kursi di dalam istana keatas punggung kuda. Ya, ia memberi komando bagi pemerintahannya dari atas kuda. Ia bawa rombongan tentara yang berjumlah besar. Rombongan itu mulai keluar dari negerinya menuju ke arah barat, dan satu per satu jatuhlah negara-negara yang dilaluinya.. Bila mereka melakukan perlawanan, maka bukan hanya tentara musuh yang mereka basmi, warga Negara yang tidak tahu-menahupun menjadi sasarannya.

Kolonisasi yang dilakukannya sangat destruktif, sangat merusak apa-apa yang dijumpainya. Semboyan mereka untuk memperoleh kenikmatan hidup adalah memperkosa wanita, membunuh penduduk yang dijumpai ketika melewati suatu negara, memenggal orang-orang yang melakukan perlawanan, dan berbagai kesadisan lainnya. Ia adalah Jenghis Khan, pendiri emporium Mongolia. Dibawah pemerintahan cucunya, Hulagu Khan, kekhalifahan Abbasiyah yang beribukota di Baghdad dihancurkan pada tahun 1258. Ia, anak dan cucunya, memilih jalan fujur! Ia hancurkan istana Baghdad, khalifah terbunuh, semua tentaranya dimusnahkan, istana dipagari dengan kepala manusia, perpustakaan yang ada dihancurkan dan semua bukunya dibakar. Hawa nafsu untuk berkuasa telah menguasai jiwa dan pikiran Jenghis Khan hingga cucunya. Mereka memahami kebahagiaan itu sebagai perbuatan sadis. Jiwa mereka kelam.

Pikiran mereka hanya di fokuskan pada upaya memperoleh kekuasaan sebesar-besarnya. Mereka tidak mengenal peri kemanusiaan. Yang mereka kenal adalah kemenangan, tanpa mempedulikan keberadaan bangsa lain. Mereka memperoleh petunjuk ke jalan fujur (sesat), yaitu cara untuk meninggalkan tempat yang terang menuju ke gelapan hidup. Petunjuk yang diharapkan oleh orang yang jiwanya bersih adalah petunjuk yang benar, yang mengantarkan ke jalan takwa, sehingga dapat sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Dibawah ini adalah kisah mereka yang mengambil jalan takwa.

Pada abad 6 SM, ada seorang raja yang hidup di negeri Kapilawastu, dekat Nepal sekarang. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Siddharta Gautama. Sang anak ini diramalkan dikemudian hari bakal menjadi seorang Begawan agama. Sang raja tidak bisa menerima kabar ini. Kehendaknya adalah anak ini akan dijadikan ahli waris kerajaan dan dijadikan raja menggantikan dirinya. Karena itu, sang anak selalu di kelilingi oleh berbagai kemewahan dunia. Bukan hanya materi, tetapi emban dan perawan bagaikan bidadari ada di dalam istana.

Agar tidak terseret oleh dunia luar istana, sang anak di nikahkan pada usia enam belas tahun. Setelah menikah Siddharta sesekali di ijinkan keluar istana. Pengalaman di luar istana, seperti melihat orang sakit, orang mati, orang miskin, dan lain-lain membuatnya prihatin tentang kehidupan ini. Ia mulai merenung, merenung, dan merenung. Kesadarannya telah melampaui tahap muthmainah.

Secara diam-diam, ia tinggalkan istana untuk pergi ke hutan. Dibawah asuhan beberapa Guru Brahma ia menjalani tapa-brata. Ia lakukan yoga dan semedi. Setelah enam tahun dibawah asuhan guru-gurunya, ia tidak puas. Ia merasa tidak menemukan jalan takwa yang ia cari. Akhirnya ia tinggalkan guru-gurunya. Ia melatih diri bermeditasi menurut caranya sendiri di bawah pohon Bodhi. Setelah enam minggu ber tahanut, ia mengalami pencerahan. Ia menjadi manusia yang tercerahkan. Ia Budhha.

Kemudia ia tinggalkan hutan, ia mengembara ke seluruh negeri untuk mengajarkan jalan takwa kepada manusia yang ada di India. Dan dalam kalangan tertentu, beliau disebut sebagai Nabi Dzulkifli a.s, yaitu Nabi yang memiliki Kifli alis Kapila (wastu).

Demikianlah kisah orang yang dilahirkan dengan kesadaran yang tinggi. Istana yang penuh kemewahan tidak mampu membelenggunya. Dirinya tidak terikat lagi oleh kesadaran yang ada diluar dirinya. Dia hidup di dunia, tetapi dunia tak mampu mengikatnya.

Contoh lainnya tentu saja Rasul Allah, Nabi Muhammad saw. Ia masih dalam kandungan ibunya ketika sang ayah Abdullah ibn Abdul Muthalib wafat di Madinah. Sang ibu, Siti Aminah, melahirkannya sebagai seorang miskin. Sang bayi hendak disusuinya sendiri. Tetapi masa itu ramai-ramai wanita yang sedang menyusui mencari nafkah dengan menyusui anak orang lain.

Adalah Halimah, seorang wanita yang sedang mencari jasa manyusui ini, tidak mendapatkan bayi yang hendak disusuinya. Ada sih, seorang bayi laki-laki, tapi dari keluarga miskin. Bayi itu adalah Muhammad!. Para wanita pesusu tidak mau menyusui bayi tersebut, karena ibundanya seorang miskin. Tak ada ongkos buat menyusui! Halimah ragu-ragu, termanggu-manggu. Mau pulang dengan tangan hampa ia malu dengan tetangga. Tapi, menyusui bayi itupun ia tak mendapatkan imbalan. Ternyata rasa malunya lebih besar dan ia putuskan untuk menyusui Muhammad walaupun tanpa memungut imbalan.

Ia ambil Muhammad dengan tulus. Ia didik anak tersebut ditengah kemiskinan. Muhammad dididik dan diasuh oleh keluarga Halimah di pemukiman Bani Sa’ad hingga umur lima tahun. Pada unur inilah terjadi peristiwa penyucian rohani, yang dikenal dengan “peristiwa pembedahan dada oleh Malaikat Jibril”. Setelah peristiwa tersebut, Muhammad di ajak pulang ke ibunda kandungnya, Siti Aminah binti Wahb, di Makkah. Muhammad kembali bertemu dengan ibundanya dan kakeknya Abdul Muthalib.Tak berapa lama tinggal bersama mereka, ibunda tercintanya wafat pada saat Muhammad berusia enam tahun..

Kini betul-betul ia adalah seorang anak yatim piatu. Kemudia ia di asuh oleh kakeknya, dan ketika di umur delapan tahun, kakeknyapun wafat. Ia betul-betul seorang anak yang ditinggal oleh mereka yang mengasihinya dan dikasihinya. Akhirnya Muhammad diasuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib. Ia menjadi gembala biri-biri, dan pada waktu tertentu membantu pamannya ikut berdagang.

Suatu hari Muhammad telah tumbuh menjadi pemuda tampan dan halim, lemah lembut, santun, dan terpuji di kota Makah. Di kota Makah ada seorang wanita kaya raya yang kedudukannya sebagai pengusaha sangat terhormat dan mulia. Beliau mendengar bahwa ada seorang pemuda yang dikenal jujur, tidak pernah berdusta, dan setia pada amanah yang diembannya. Pemuda tersebut adalah Muhammad, kemudian beliau merekrutnya sebagai pedagang yang membantunya.

Muhammad menjalankan tugas perdagangan ke negeri Syams, ditemani oleh karyawan beliau yang lain, Maisarah. Singkat kata, Muhammad adalah pedagang tangguh, terpuji dengan segala kejujurannya, dan berhasil. Nilai perdagangannya menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Kondisi ini menarik hati beliau yang berstatus janda itu untuk menjadikan Muhammad sebagai suaminya. Lewat sahabat karib beliau, Nafisah binti Munabbih, Siti Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Muhammad sebagai suaminya. Tawaran itu diterima Muhammad dengan baik. Pernikahan dilaksanakan dengan khidmat. Khadijah pada waktu itu berusia 40 tahun dan Muhammad 25 tahun.

Sebagai seorang suami yang berasal dari keluarga miskin, tidak menjadikan beliau kemaruk harta benda. Belaiu yang sudah memiliki kesadaran tinggi ini, tidak terikat oleh kehidupan dunia. Beliau lebih banyak kontemplasi dan prihatin atas nasib masyarakat Arab pada waktu itu. Beliau merenung, merenung, dan merenung. Belaiu sangat cerdas dan tajam dalam memandang hakikat kehidupan ini.

Pada usia 36 tahun belaiu diberi gelar “Al-Amin”, yang terpercaya. Luar Biasa! Masyarakat Quraisy yang pelit pujian terhadap klan lain ini, justru memberikan gelar yang sangat terhormat itu kepada Muhammad, yang secara kekuasaan duniawi tak dimilikinya. Muhammad terus melakukan perenungan. Dan, setiap tahun pada bulan Ramadhan beliau mengasingkan diri untuk melakukan perenungan di Gua Hira. Setelah melakukan itu beberapa kali, maka beliau menerima wahyu yang disebut Al-Quran. Beliau menjadi Nabi!

Walaupun kita tidak bisa menirunya, tetapi kita dapat mengambil pelajaran dari keteladanan-keteladanan itu agar kita tetap optimis dalam menembpuh hidup ini. Kita bisa melewati dunia ini tanpa terjebak oleh dunia.

Menghindari Sikap Ceroboh

Salah satu yang jarang kita perhatikan adalah sikap ceroboh. Sering kita meremehkan hal-hal yang menjadi penyebab kecerobohan. Berapa banyak masalah yang timbul karena kecerobohan yang kita lakukan. Ketika memasak misalnya, garam kebanyakan tentu masakan akan jadi asin. Begitu juga bagi yang keliru meminum obat. Kelebihan dosis karena berpikir akan cepat sembuh. Contoh lain, tidak hati-hati menyalakan listrik, kesetrum jadinya. Atau lupa mencabut kunci motor, motor baru bisa hilang digondol maling.

Mengapa orang bisa ceroboh? Di antara penyebabnya: pertama, sifat tergesa-gesa. Karena ingin cepat selesai, cepat untung, kita kerap menjadi tergesa-gesa. Sehingga ada saja yang terlupakan. Ada yang tertipu, karena ingin untung besar. la ceroboh karena tergesa-gesa memutuskan sesuatu. Orang yang ceroboh karena tergesa-gesa bermental ingin cepat selesai.

Kedua, orang yang ceroboh karena sering grasa-grusu, tidak banyak pertimbangan. Lalu, ketiga, orang yang mau untung besar dengan cara gampang. Banyak contoh orang tertipu karena tergiur dengan iming-iming janji. Dikabari dapat undian, lalu harus mengirimkan sejumlah uang. Karena ingin untung, langsung saja diberikan. Akhirnya, ia tertipu mentah-mentah.

Begitu pun dengan orang yang kurang tawakal kepada Allah. Walaupun menurut kita bagus, belum tentu bagus menurut Allah. Jadi, dia akan bertindak menurut pendapatnya sendiri. Dan karena terlalu ingin, ceroboh saja menurutinya. Padahal Allah telah menuntun kita agar tidak terjebak pendapat sendiri. Jika menyangkut kepentingan orang banyak misalnya, ada jalan musyawarah. Sehingga keputusan yang diambil benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Supaya tidak terjebak pada sikap ceroboh, kuncinya adalah pahami terlebih dahulu setiap masalah yang dihadapi. Jangan pernah mengambil keputusan tanpa pertimbangan. Lakukan pula chek dan rechek. Biasakan diri untuk melakukan hal tersebut. Dan terakhir, menyangkut perkara yang besar, biasakanlah shalat istikharah. Agar Allah senantiasa menolong kita dalam menjalani keputusan tersebut. Baik atau buruk akibat yang didapat. Amiin.

Karakteristik Bulan Muharram

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُم.ٌ( التوبة:36)
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram". (At-Taubah: 36).
Semua ahli tafsir sepakat bahwa empat bulan yang tersebut dalam ayat di atas adalah Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab.

Ketika haji wada’ Rasulallah bersabda:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ [... السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ ...].

Dari Abi Bakrah RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Setahun ada dua belas bulan, empat darinya adalah bulan suci. Tiga darinya berturut-turut; Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab”. (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).

Dalam hadist di atas Nabi SAW hanya menyebut nama empat bulan, dan ini bukan berarti selain dari nama bulan yang disebut di atas tidak suci, karena bulan Ramadhan tidak disebutkan dalam hadist diatas. Dan kita semua tahu bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kesucian, ada Lailatul Qadar, juga dinamakan dengan bulan rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka.

Ibnu Rajab al-Hambali ( 736 – 795 H ) mengatakan, Muharam disebut dengan syahrullah (bulan Allah) karena memiliki dua hikmah. Pertama, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharam. Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah SWT dalam mensucikankan bulan Muharam.

Bulan Muharram mempunyai karakteristik tersendiri, dan diantara karakteristik bulan Muharram adalah:

Pertama: Semangat Hijrah
Setiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Kita seharus merenung kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah. Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama 'Tahun Muhammad' atau 'Tahun Umar'. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).

Tidak juga seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (dewa matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 pebruari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura) Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.

Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudah baginya melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu.

Ia malah menjadikan penanggalan itu sebagai zaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Beliaulah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).

Dalam sejarah hijrah nabi dari Makkah ke madinah terlihat jalinan ukhuwah kaum Ansor dan Muhajirin yang melahirkan integrasi umat Islam yang sangat kokoh. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Bisa dimengerti, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum Mujahirin-Anshar.

Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat Islam. Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Hadis Rasulullah yang sangat populer menyatakan, ''Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung”.

Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.'' Oleh karena itu, sesuai dengan firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر18)
''Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat) dan bertakwalah, sesungguhnya Allah maha tahu dengan apa yang kamu perbuatkan''. (QS. Al-Hasyar: 18).


Karakteristik Kedua: Di sunnahkan berpuasa
Pada zaman Rasulullah, orang Yahudi juga mengerjakan puasa pada hari 'asyuura. Mereka mewarisi hal itu dari Nabi Musa AS.

Dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Rasulullah SAW bertanya, "Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?" Mereka menjawab, "Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa."Rasulullah SAW bersabda, "Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian." (HR. Abu Daud).

Puasa Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan. Rasululllah SAW bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله : أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة قيام الليل .
Dari Abu Hurairah RA, Rasululllah SAW bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa ramadhan adalah puasa dibulan muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim, Abu Daud, Tarmizi, dan Nasa’ ).
Puasa pada bulan Muharam yang sangat dianjurkan adalah pada hari yang kesepuluh, yaitu yang lebih dikenal dengan istilah 'asyuura.
Aisyah RA pernah ditanya tentang puasa 'asyuura, ia menjawab, "Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW puasa pada suatu hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadilah pada hari itu atas hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari kesepuluh Muharam." (HR Muslim).
Dalam hadits lain Nabi juga menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘asyura (10 Muharram) bisa menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.
عن أبي قتادة رضي الله عنه قال : سُئل النبي صلى الله عليه وسلم عن صيام يوم عاشوراء ، فقال : إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله . رواه مسلم
Dari Abu Qatadah RA, Rasululllah SAW ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: ”Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat” (HR. Muslim).
Disamping itu disunnahkan untuk berpuasa sehari sebelum ‘Asyura yaitu puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram, sebagaimana sabda Nabi SAW yang termasuk dalam golongan sunnah hammiyah (sunnah yang berupa keinginan/cita2 Nabi tetapi beliau sendiri belum sempat melakukannya):
Ibnu Abbas RA menyebutkan, Rasulullah SAW melakukan puasa 'asyuura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata, "Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Tahun depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharam." Namun, pada tahun berikutnya Rasulullah telah wafat. (HR Muslim, Abu Daud).

Berdasar pada hadis ini, disunahkan bagi umat Islam untuk juga berpuasa pada tanggal sembilan Muharam. Sebagian ulama mengatakan, sebaiknya puasa selama tiga hari: 9, 10, 11 Muharam.

Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Puasalah pada hari 'asyuura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum 'asyuura dan sehari sesudahnya." (HR Ahmad).

Ibnu Sirrin berkata: melaksanakan hal ini dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharam. Boleh jadi yang kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh. (Majmuu' Syarhul Muhadzdzab VI/406) .


Mudah-mudahan dengan masuknya awal tahun baru hijriyah ini, kita bisa merancang hidup kita kedepan agar lebih baik dan bermanfaat bagi umat manusia, yakni mengubah perilaku buruk menjadi baik, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

GUE ANAK JENDRAL

Salah satu kecenderungan anak yang masih dalam usia remaja adalahmembangga-banggakan kebesaran orang tua, kakek-neneknya, dan orang-orang yang ada hubungan keluarga dengannya. Ini bisa dimengerti karena tidak banyak anak-anak yang dalam usia remaja itu mampu menegaskan jati diri dan eksistensinya lewat prestasi dan keberhasilan yang diraihnya. Dari kalangan mereka, tidak sedikit juga yang mampu meraih prestasi dan keberhasilan, sehingga jati diri dan eksistensi mereka pun diakui oleh publik. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang dapat memberikan sumbang sih bagi keharuman nama bangsa dan negara. Ke arah inilah, seharusnya kaum remaja bangsa inidiarahkan.

Tidak bisa dipungkiri, dalam kecenderungan kaum remaja yang masih labil dan belum bisa eksis untuk menopang kehidupannya sendiri, lahirlah para generasi remaja yang suka mengandalkan orang tua mereka ataupun orang-orang lain yang ada hubungan keluarga dan kekerabatan dengan mereka. Bila terbelit oleh suatu masalah, biasanya mereka mengandalkan orang tua dan orang-orang lain yang dianggap bisa melindunginya. Bahkan tak jarang, remaja-remaja yang mempunyai karakter semacam itu suka mempergunakan "nama besar" orang
tua ataupun orang lain yang ada hubungan keluarga dan kekerabatan dengannya untuk mendomniasi kelompok remaja yang lain. "Awas, belum tahu lu siapa bokap gue!", begitu salah satu ungkapan yang biasa dilontarkan oleh "remaja tak berkarakter" untuk mengancam remaja
lain yang terlibat "clash" dengannya.

Tidak mengherankan jika dalam dunia remaja pun sering ditemukan istilah-istilah seperti: "Anak Mama", "Anak Papa", "Anak Jendral", "Anak Gedongan", dan seterusnya. Semua sebutan itu diperuntukkan bagi remaja-remaja tertentu yang tidak mampu menunjukkan jati diri dan eksistensinya sendiri, namun selalu membanggakan orang-orang tertentu dari kalangan keluarga dan kerabatnya. Dalam konteks ini, pemilih lebih suka memilih term "Anak Jendral" untuk menyebut mereka (para remaja) yang mempunyai karakter semacam itu.

Islam sangat menghargai prestasi seseorang. Islam menegaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya, dan takwa adalah bagian dari prestasi seseorang. Dalam banyak ayat, Al-Qur'an juga menegaskan bahwa orang-orang yang beriman dan mengerjakan berbagai perbuatan baik akan mendapatkan pahala yang mulia di sisi-Nya, tidak peduli siapa pun dan dari golongan manapun. Singkatnya, Islam mengahrgai seseorang berdasarkan usaha, perbuatan, dan prestasi yang dilakukannya secara
mandiri, bukan karena prestasi dan kebesaran keluarga, kerabat, ataupun orang lain. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman:


Artinya:
Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh (berbuat baik), tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala (balasan perbuatan baik) orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik. (Q.S Al-kahfi: 30)

Artinya:
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh (berbuat baik), maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan kami titihkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami". (Q.S Al-Kahfi: 88)

Artinya:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S An-Nahl: 97)

Dalam ketiga ayat di atas, Allah menegaskan, siapa pun yang beriman dan melakukan amal saleh (perbuatan baik), niscaya Allah akan memberikan balasan yang mulia atas perbuatan baik yang dilakukannya, tidak peduli siapapun dan dari mana pun ia berasal. Ditegaskan oleh
Allah bahwa si pelaku akan mendapat apresiasi dan balasan baik dari-Nya atas perbuatan baik yang dilakukannya.

Orang sering mengasumsikan bahwa amal saleh adalah segala perbuatan yang berkaitan dengan ibadah "mahdha" saja, misalnya shalat, zakat, puasa, haji, bersedekah dan seterusnya. Padahal amal saleh adalah seluruh perbuatan baik yang dapat memberikan nilai manfaat, minimal bagi pelakunya sendiri, terutama bagi masyarakat luas. Dengan demikian amal saleh (perbuatan baik) adalah suatu prestasi, karena ia lahir dari kemauan, tindakan, dan kerja langsung dari pelakunya untuk kemaslahatan (kebaikan) dirinya dan orang lain. Allah sangat
menghargai prestasi seseorang, karena apapun prestasi yang ditorehkan seseorang akan mendapat balasan di dunia dan akhirat.


Contoh balasan yang diberikan Allah dalam kehidupan dunia ini adalah orang yang belajar giat dan berusaha keras, pasti akan mendapat gelar dan pekerjaan yang layak. Seorang sarjan tentu akan memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan terhormat dibandingkan dengan orang
yang hanya mengeyam pendidikan SD. Itu adalah bagian (apresiasi dan balasan) Allah terhadap orang-orang yang melakukan amal saleh (perbuatan baik).Jadi, Allah sangat menghargai prestasi. Karena Allah memerintahkan agar setiap orang mempunyai prestasi, berdasarkan besar dan kecilnya prestasi yang diraih seseorang. Allah menegaskan, tidaklah sama orang yang berbuat, bekerja keras, dan mampu meraih prestasi.

Dalam Al-Qur'an, Allah memberikan contoh dengan penegasannya bahwa tidaklah sama orang yang hanya duduk dan berpangku tangang saja dengan orang yang mau berbuat dan berjihad di jalan-nya (Q.S An-Nisa: 95). Dalam konteks kehidupan remaja, pola hidup "Gue anak jendral" ataupun "gue anak...", yaitu pola hidup membanggakan dan berlindung di balik kebesaran orang lain, jelas merupakan pola hidup yang sangat tidak terpuji. Karenanya harus ditanamkan dalam setiap diri kaum remaja bahwa kebanggaan adalah kebanggaan diri sendiri saat mampu meraih prestasi dan nilai guna bagiorang lain. Kebanggaan tidak dapat diperoleh hanya dengan berlindung di balik kebesaran orang lain, tetapi kebanggaan akan terasa nikmat bila bersumber dari buah karya dan prestasi diri sendiri. Allah tidak menilai seseorang berdasarkan keturunan, kekayaan, dan keelokan fisik. Allah menilai seseorang berdasarkan baik tidaknya hati dan perbuatan (prestasinya).

Khutbah Terakhir Rasulullah SAW

Wahai Manusia,dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh karena itu dengarlah dengan teliti kata-kataku dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.

Wahai manusia, sebagaimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti siapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi. Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan diatas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh karena itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.

Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dan dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak atas kamu.Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik, berlemah-lembutlah terhadap mereka karena sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kata ku ini, Sembahlah Allah, Dirikanlah sholat lima kali sehari, Berpuasalah di Bulan Ramadhan dan Tunaikanlah Zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadat Haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah bersaudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama, tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal sholih.

Ingatlah, bahwa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan. Oleh karena itu awasilah agar jangan sekali-kali terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dari ku. Saksikanlah Ya Allah bahawasanya telah aku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hamba mu.

(Khutbah ini disampaikan oleh Rasululloh SAW pada 9 Zulhijjah Tahun 10 Hijriyah di Lembah Uranah,Gunung Arafah.)

Keistimewaan wanita dalam pandangan Islam

Sungguh luar biasa Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang sempurna, dan dibekali pula dengan kodrat bagai tiang penyanggah yang slalu dibawa kemana pergi dan suatu saat nanti Allah SWT akan menggantikannya menjadi kebajikan apabila tiang itu dipergunakan dan diletakannya ditempat yang baik dan benar.

Wahai wanita berbahagialah karena begitu banyak kelebihan dan keistimewaan yang dianugrahkan kepada kita. Dan jadikanlah anugrah ini sebagai batu permata penghias taman Syurga FirdausNya, amien.

Wahai kaum Ayah/Suami/Kakak Lelaki/Anak Lelaki(kaum ADAM), mulailah dari sejak dini memuliakan wanita baik itu Ibu/Istri/Kakak Perempuan/Anak Perempuan. Karena yang demikian itu Allah menjanjikan Surga. (HR Abu Dawud).


''Barangsiapa mempunyai anak perempuan, tidak dikuburkannya anak itu hidup-hidup, tidak dihinakannya, dan tidak dilebihkan anaknya laki-laki dari perempuan itu, maka Allah memasukannya ke dalam surga dengan sebab dia"

Sebagai wanita Allah menciptakan dan memberi segala keistimewaannya, cobalah kita (kaum wanita) mempelajari dari pandangan ISLAM ini dan jadikan suatu keistimewaan itu sebagai cermin hidup kita.

Bagian dari keistimewaan wanita, yang dipandang ISLAM ;

Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki dan ketika ditanya kepada Rasulullah S.A.W. akan hal tersebut, jawab baginda :

"Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.

Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takutkan Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka keatas tubuhnya.

Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah.

Hendaklah mendahulukan anak perempuan dari pada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan keturunan Nabi Ismail A.S.

Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di dalam syurga.

Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.

Daripada Aisyah r.a. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).

Aisyah r.a. berkata "Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W., siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ? Jawab baginda,"Suaminya."

"Siapa pula berhak terhadap lelaki ?" Jawab Rasulullah S.A.W. "Ibunya."

Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dia kehendaki.

Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan-Nya.


Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T.

Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.
Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk dari pada 1,000 lelaki yang jahat.
2 rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baikdaripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (ASI) akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap tetes susu yang diberikannya.
Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah didalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.

Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.

Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.

Wanita yang memerah susu binatang dengan "bismillah" akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.
Wanita yang menguli tepung gandum dengan "bismillah", Allah akan berkatkan rezekinya.
Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti menyapu lantai dibaitullah.
Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.
Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.


Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.
Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala12 tahun sholat.
Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo(2 thn), maka malaikat-malaikat dilangit akan kabarkan berita bahwa syurgawajib baginya.

Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

Jika wanita memicit/mijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memicit suami bila disuruh akan mendapat pahala 7 tola perak.
Wanita yang meninggal dunia dengan keridhoan suaminya akan memasuki syurga.
Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.

Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang menutupi auratnya di dunia ini dengan istiqamah.

Jadikanlah Cermin yang indah dalam hidup kita, agar kita dapat melihat semuanya menjadi indah, dan keindahan dapat menjadikan sosok wanita cantik dan budiman sebagai bekal diakherat "

Pohon dalam Diri

Tahun adalah sebuah pohon, bulan-bulan adalah dahan-dahannya, hari-hari adalah cabang-cabangnya, bilangan jam adalah dedaunannya, setiap tarikan nafas adalah buah-buahnya. Barangsiapa yang nafasnya berada dalam ketaatan kepada Allah, maka buah dari pohon tersebut akan baik pula. Dan barangsiapa yang nafasnya berada dalam kemaksiatan kepadaNya, niscaya buahnya adalah handhal (buah pahit dan tidak berbau harum), yang bisa dipanen pada hari Kiamat. Pada saat itulah bisa dibedakan rasa manis dan pahit buah-buahan itu.

Keikhlasan dan tauhid bagaikan sebuah pohon di dalam hati, dahannya adalah amal, buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat.

Sebagaimana buah kenikmatan dalam surga tidak akan pernah berakhir, demikian pula buah tauhid dan ikhlas di dunia.

Syirik, dusta , dan riya’ juga seperti pohon dalam hati. Buahnya di dunia berupa kedudukan, kesedihan, hati yang tertekan dan kegelapan hati. Buahnya di akhirat berupa siksa yang tak henti-henti.

Diantara buah keikhlasan yang sempurna karena Allah semata adalah meninggalkan nafsu syahwat karena Allah, selamat dari adzabNya, kepastian untuk mendapatkan kemenangan dengan rahmatnya.

Kenikmatan jiwa dan kebahagiaan tidak akan didapat oleh orang yang di hatinya ada selainNya, meski orang tersebut melakukan ibadah, zuhud dan ilmu. Karena Allah tidak akan memberikan simpananNya pada hati yang di dalamnya ada selainNya dan kehendakNya masih tergantung kepada selainNya. Akan tetapi Allah hanya akan memberikan simpananNya kepada hati yang melihat kefakiran sebagai suatu kekayaan bila bersamaNya, dan kekayaan sebagai kefakiran apabila meninggalkannya.

Juga melihat kemuliaan sebagai kehinaan apabila meninggalkan Allah dan melihat kehinaan sebagai kemuliaan bila menyertakanNya.

Kenikmatan dirasakannya sebagai siksaan bila tidak menyertakan Allah dan adzab terasa sebagai kenikmatan bila bersamaNya.

Artinya, ia tidak melihat kehidupan ini kecuali hanya dengan Allah bersamaNya. Kematian, rasa sakit, kesedihan, dan kedudukan akan terasa apabila meninggalkanNya. Orang semisal ini akan merasakan dua surga, surga di dunia yang ia rasakan terlebih dahulu dan surga pada hari Kiamat.

Dalam kitab Al-Musnad dan Shahih Abi Hatim diriwayatkan hadist dari Abdullah bin Mas’ud radiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang hamba tertimpa kedudukan dan kesedihan kemudian ia mengucapkan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambamu, anak hambamu, ajalku di tanganMu, berlaku pada diriku hukumMu, telah adil pula takdirMu bagiku, saya mohon kepadaMu dengan setiap namaMu yang Engkau namakan diriMu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitabMu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari ciptaanMu atau Engkau simpan di dalam ilmu gaib di sisiMu, jadikanlah Al-Qur’an sebagai pengisi hatiku, cahaya hatiku dan penyejuk kegundahanku serta penghilang kedukaanku dan kepedihanku’, melainkan Allah akan menghilangkan kedukaannya dan kesedihannya serta menggantikannya dengan kegembiraan. “Para sahabat bertanya,’Akankah kita mempelajarinya? “Beliau menjawab, “Tentu. Tidak akan selayaknya orang yang mendengarnya kemudian tidak mempelajarinya.

Disadur dari kitab Al-Fawaa’id

Syarat Diterimanya Ibadah

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku” (QS. Az Zariyat 11). Berdasarkan ayat di atas tujuan utama jin dan manusia diciptakan Allah adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.

Seorang muslim ketika memahami bahwa tujuan hidupnya adalah ibadah, maka kehidupannya tidak akan terombang ambing, dia akan beriltizam semaksimal mungkin agar seluruh aktivitas yang dilakukannya bernilai ibadah serta selalu mengharapkan ridha Allah SWT. Komitmen ini selalu diikrarkan dalam shalat, “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

Makna Ibadah

Apa ibadah itu? Sebuah pertanyaan singkat, namun besar kemungkinan banyak diantara umat Islam tidak paham maknanya. Kata ibadah berasal dari bahasa Arab ‘abada- ya’budu- ibadatun. Secara bahasa artinya patuh atau tunduk, sedangkan menurut istilah ibadah adalah patuh kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah, menjauhi larangan-Nya sebagaimana yang disampaikan melalui lisan para Rasul-Nya.

Secara rinci ibadah itu terbagi tiga, yaitu ibadah qalbiyah ibadah yang dilakukan dalam hati seperti khauf, raja, mahabbah, tawakkal. Kemudian ibadah qalbiyah lisaniyah yaitu ibadah yang dilakukan dalam hati sekaligus mensinkronkan dengan lisan seperti bertasbih, tahlil, takbir, tahmid, ungkapan rasa syukur dan ibadah yang diniatkan dalam hati, dilakukan melalui anggota badan seperti shalat, puasa, zakat, haji, jihad.

Secara luas makna ibadah itu adalah semua bentuk perbuatan amaliah yang disukai dan dicintai Allah melalui perkataan dan perbuatan, baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau pun dilakukan secara terang-terangan. Pendek kata seluruh bentuk ketaatan yang dilakukan dalam hati, lisan dan anggota tubuh manusia, serta dilakukan untuk mengharapkan ridha Allah SWT adalah “ibadah”.

Dalam praktek sehari-hari yang termasuk katagori ibadah antara lain, berzikir, bertasbih, tahlil, membaca ayat suci al Quran, shalat, puasa, zakat, haji, jihad, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, berbuat baik kepada karib kerabat, orang tua, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, berbuat ihsan kepada ibnu sabil, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, sabar, ridha terhadap qada’ dan qadar-Nya. Tawakkal hanya kepada Allah, mengharap rahmat dan takut azab-Nya, taubat, istighfar. Sampai-sampai kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dianggap sebagai ibadah seperti makan, minum, jual beli, nikah dan lain sebagainya. Inilah makna ibadah yang dapat kita pahami secara luas.

Syarat Ibadah

Kewajiban seorang hamba terhadap rabbi-Nya adalah beribadah hanya kepada sang pencipta alam semesta dan menjauhi syirik. Selagi hayat masih dikandung badan maka kita harus memperbanyak amal ibadah dan kesempatan itu hanya ada ketika manusia berada di muka bumi. Dalam menjalankan praktek ibadah, seorang muslim harus tahu benar beberapa syarat agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia dan diterima Allah SWT. Ada dua syarat pokok diterimanya ibadah, yaitu:

1. Ikhlas
Beberapa ulama memberikan definisi ikhlas, ada yang mengatakan ikhlas artinya memurnikan segala niat dan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dari segala hal yang dapat menyebabkan terjadinya cela. Ada juga mengartikan ikhlas dengan menunggalkan Allah SWT ketika berniat akan mengerjakan ketaatan. Pendapat lain menjelaskan bahwa ikhlas itu melupakan perhatian terhadap makhluk karena memandang sang Khalik.

Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya agar selalu ikhlas beramal, karena amal yang dilakukan tidak mengharapkan ridha-Nya ditolak. Hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah, tatkala itu ada seorang lelaki mendatangi beliau kemudian bertanya, “apa pendapatmu tentang seseorang yang ikut berperang karena mencari pahala dan berzikir, apa balasan yang akan diterimanya?” Rasulullah SAW bersabda, “Dia tidak akan mendapatkan apa-apa”. Beliau mengulanginya sampai tiga kali, setelah itu beliau bersabda, “Dia tidak mendapatkan apa-apa”. Kemudian beliau bersabda,” Sesungguhnya Allah azza wajalla tidak menerima sebuah amalan kecuali yang dikerjakan dengan murni dan hanya mengharapkan ridha-Nya” (HR. Abu Daud dan an-Nasai).

Ikhlas adalah membersihkan hati dari berbagai unsur yang dapat mendatangkan aib atau cela baik sedikit ataupun banyak, sehingga amalan yang dilakukan benar-benar mengharapkan ridha Allah serta bertujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Bukan karena motif lain, ada udang di balik batu. Karena ingin dilihat orang bahwa dirinya berpihak kepada rakyat kecil, membantu mereka yang susah dan miskin hidupnya, lantas sering memberikan bantuan, bingkisan, sumbangan, namun di balik itu ternyata dia ingin mendapatkan simpati dan dukungan agar dirinya terpilih menjadi pejabat.

Ada lagi yang rajin ke masjid tapi niatnya biar diangkat menjadi pengurus masjid, rajin shalat ke masjid biar dibilang orang alim, nampak oleh calon mertua. Berangkat haji biar dipanggil bu hajjah atau pak haji. Orang-orang yang melakukan praktek ibadah seperti ini telah disindir Allah dalam al Quran, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”(QS. Al-Kahfi 18: 103-104).

Rasulullah telah mengingatkan kita satu penyakit yang akan menggerogoti amal seseorang yaitu riya dan sum’ah. Riya artinya beramal karena ingin dilihat orang, sedangkan sum’ah beramal karena ingin didengar orang lain. Oleh sebab itu seorang muslim akan sukses dan mampu beramal dengan ikhlas manakala dia mampu menghancurkan ambisi duniawinya, berkonsentrasi penuh menggapai kehidupan akhirat dan hanya berharap kepada ridha Allah Yang Maha Kuasa.

2. Mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasulullah SAW)
Perkara-perkara yang berkenaan dengan ibadah dan aqidah adalah tauqifiyyah artinya harus disertai dengan dalil-dalil yang jelas, bersumberkan dari al Quran dan as-Sunnah. Dalam hal ibadah referensi yang jelas ada pada diri Rasul, karena hanya beliaulah satu-satunya orang yang paling mengerti tentang syariat Islam. Rasulullah SAW merupakan tauladan dalam segala hal, tidak hanya masalah ibadah saja tetapi aqidah maupun muamalah.

Saudaraku seiman dan seakidah, perbanyaklah ibadah, lakukanlah dengan ikhlas mengharapkan ridha-Nya kemudian ikutilah tuntunan baginda Rasulullah SAW, insya Allah amal ibadah kita akan diterima-Nya. “Barangsiapa beramal yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalnya ditolak” (HR. Muttafaq Alaih). Wallahu A’lamu.

Memahami bahaya Ghazul Fikr (Perang Pemikiran)

Sejarah telah mencatat bahwa kaum kafirin telah mengalami kekalahan yang beruntun dari kaum muslimin selama perang Salib (crusade).

Mereka mencari alternatif untuk menghancurkan umat Islam. Mereka tidak pernah rela dan tidak pernah berhenti menyerang hingga Umat Islam mengikuti pemikiran dan keinginan mereka . Strategi yang dipilih untuk menghancurkan Islam adalah dengan “Perang Pemikiran” . Perang Pemikiran adalah serangan pemikiran, budaya, mental dan konsep yang dilakukan secara terus menerus dengan sistematik, teratur, tertata, terancang dan terkonsep dengan baik.( Dalam buku Al-Ghazw Al- Fikri , Dr. Irawan Prayitno ). Hal itu dilakukan sehingga muncul perubahan kepribadian, gaya hidup dan tingkah laku pada umat islam.

Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah :120 yang artinya kurang lebihnya adalah sebagai berikut “Dan orang-orang Yahudi dan nasrani tidak akan senang kepadamu, kecuali apabila kamu turut agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sejati. Dan kalau kamu mengikuti hawa nafsu (kemauan ) mereka, setelah datang pengetahuan kepadamu , tentulah Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagi mu.” Tidak sebatas orang Nasrani dan Yahudi saja Pelaku perang pemikiran secara umum namun terdiri dari orang – orang Majusyi, Musrikin, Munafiqin, Atheis dan orang Kafir.

Mereka yang sering disebut dengan orang Mustakbiruun ( Orang – orang yang sombong dan melampaui batas ).

Bentuk Ghazwul Fikr
Cara yang di gunakan mereka untuk menyerang umat Islam sehingga membuat umat Islam lupa akan identitas aslinya dan keoriginalannya adalah melalui propaganda, pendidikan, pengajaran, buku, media cetak, media elektronik, klub – klub, olah raga, lembaga – lembaga hiburan, film, dan musik.

Musuh – musuh Islam tadi di atas selalu bergerak untuk menghancurkan Islam dan memadamkan cahaya Islam dengan berbagai cara. Perang Pemikiran (Ghazw – Fikr) sebagai satu cara untuk memadamkan cahaya Islam nampaknya mulai menunjukkan hasilnya pada diri umat Islam yang semakin hari semakin mengamalkan gaya hidup seperti orang – orang kafir. Diantaranya upaya musuh Islam untuk memadamkan cahaya Islam adalah merusak akhlaq, menghancurkan fitrah umat, melarutkan kepribadian dan menumbangkan aqidah.

Di dalam peran merusak aqidah dewasa ini telah nampak dengan jelas terbukti banyak dari umat Islam yang meninggalkan kewajiban yang sangat urgen sekali yaitu perintah sholat lima waktu, hal yang sangat fundamental ini hari demi hari kian luntur dan tergantikan dengan aqidah jahiliyah yaitu seperti klub-klub malam yang makin merebak dan menjamur di mana – mana, musik – musik yang tidak mendidik serta film yang merusak aqidah para muda mudi harapan Agama. Merusak akhlaq merupakan stategi efektif yang mereka lakukan kepada remaja dengan menghadirkan berbagai hiburan dan kehingar - bingaran atau kebebasasan yang cenderung diminati oleh sebagian remaja.

Batapa banyak kita saksikan saat ini, hati yang telah dikalahkan oleh karat dosa dan maksiat hingga kilatan kebaikan dan gemerlapan cahaya iman dalam hati menjadi tertutupi.

Manusia seperti kata Mutahhari adalah makhluk Paradoksal artinya bahwa di dalam diri manusia terdapat sifat – sifat baik dan sekaligus jahat, tetapi hal ini merupakan sifat yang potensial yaitu bahwa manusia di tuntut mampu mengendalikan dirinya, sekaligus mengarahkannya agar menjadi manusia yang Muttaqin karena derajat itu merupakan derajat paling tinggi di hadapan Allah SWT.

Namun demikian, dengan sifat kesombongan dan ketakaburannya, banyak manusia cenderung lupa diri untuk selalu mawas diri , introspeksi, bermuhasabah atas apa-apa yang telah dikerjakannya, sehingga tak mengherankan bila banyak manusia yang terkadang derajatnya lebih rendah di banding dengan binatang.

Kondisi semacam ini banyak terjadi di kalangan masyarakat Indonesia yang notabene beragama Islam dan tercatat sebagai negara muslim terbesar di dunia. Umat Islam secara umum dan muslim Indonesia pada khususnya tidak menyadari tentang bahaya perang pemikiran yang sedang melanda umat muslim saat ini.

Fenomena ini di buktikan dengan banyaknya muslim yang secara sadar atau pun tidak mengikuti pemikiran, tingkah laku, dan gaya hidup orang kafir (Kebarat-baratan), Ketidak sadaran muslim terhadap bahaya ini menjadikannya kehilangan identitas dan kepercayaan diri sebagai Muslim.

Bahkan kebanggaan dengan tingkah laku Jahiliyah atau kebarat-baratan ini telah dijadikan sebagai budaya dan sudah mendarah daging dalam kehidupan kesehariannya.

Yang pada titik kulminasi tertentu akan dapat membuat umat Islam tertipu, cenderung menjadi kafir, mencintainya, mentaatinya, mengikuti cara hidupnya, menyerupai prilakunya, sampai memberikan loyalitas orang kafir tersebut.

Apabila bahaya ini sudah datang pada umat Islam, maka ia akan menjadi hina dan cenderung mengikuti tingkah laku orang kafir, bahkan pada Klimaksnya seorang muslim dapat murtad dan tidak lagi mengakui ketauhidan Allah SWT. Ia akan mendapat laknat dan azab yang sangat pedih dari Allah SWT sehingga Allah berlepas dari dirinya. Kehidupan orang muslim yang masuk perangkap dalam perang pemikiran tadi akan berubah menjadi kehidupan yang jahiliyah. Na`udzubillahimindzalik.

Kehidupan jahiliyah merupakan kehidupan yang jatuh dan terjerembab dalam dosa dan maksiat, mereka dijauhi oleh berkah dan rahmat Allah, kehidupan yang dalam keadaan gelap gulita tanpa ada cahaya sebagai penerang dalam hatinya yang ada hanya dorongan jahat dari hawa nafsu yang dikuasai oleh setan yang akan menjerumuskan dalam kenistaan dan kehinaan dunia maupun akhirat.

Kejahiliyahan di sebabkan karena prasangka buruk kepada Allah, merasa diri cukup dan tidak butuh hidayah dan pertolongan dari Allah, seta bersifat congkak, sombang dan angkuh.

Antisipasi Bahaya Ghazwul Fikr
Kehidupan Jahiliyah ini dapat terlihat pada konsep kehidupan suatu umat dimana mereka menentang kekuasaan Allah SWT. Kehidupan jahiliyah semasa Rosullulah telah hancur pada zaman tersebut karena datangnya Islam yang di bawa Beliau sebagai cahaya dan penerang dari kegelapan, Namun demikian, kejahiliyahan yang telah terkubur oleh nabi Muhammad SAW saat ini telah bangkit, merebak dan bermunculan di berbagai tempat untuk menghancurkan dan mengajak manusia untuk mengikuti gaya hidup dan pola pikir mereka.

Sehingga tak heran kalau kondisi mental spiritual bangsa Indonesia kini di hadapkan pada sebuah kubangan lumpur hitam dan diambang kehancuran. Kekerasaan, kriminalisme, anarkhisme acapkali terjadi dan sudah merebak dan sudah menjamur dikalangan masyarakat Indonesia. Ironisnya hampir mayoritas tindak kejahatan tadi dilakukan oleh pelaku yang notabene adalah seorang muslim.

Hal ini sangat memilukan sekaligus sangat memalukan secara tidak langsung mencoreng kekhasanahan Islam sebagai agama Rahmatal Lil’alamin dan ini merupakan salah satu tujuan utama dari perang pemikiran yang di lontarkan oleh orang kafir tadi.

Langkah jitu dan tepat untuk menangkal perang pemikiran yang di lancarkan dikalangan muslim adalah dengan mempergunakan Iman dan ilmu pengetahuan sebagai alat filter untuk menyaring dan menangkal berbagai tingkah laku yang tidak sesuai dengan agama kita, Tunjukkan bahwa kita mampu dan produk islam adalah produk terbaik, menanamkan dan menghunjamkan dalam hati untuk selalu berprasangka baik kepada Allah SWT atas takdir baik maupun buruk, selalu meminta petunjuk dan Hidayah kepada-Nya agar diberikan-Nya jalan yang haq dan menurut syariat Islam, Rendah hati atau tidak sombong karena sifat itu hanya kepunyaan Allah semata, dan mengendalikan Hawa nafsunya, tidak lupa untuk selalu beramar ma`ruf Nahi munkar . Wallahu a`lam Bishawab.

Hakikat Cinta Dan Benci

Cinta (al-mahabbah) dan benci (al-karâhah), merupakan fitrah emosional yang dianugerahkan Allah SWT pada seluruh manusia. Bagi seorang Muslim, cinta dan benci itu harus berdasarkan proporsionalisasi syarî’at. Karena, bisa jadi, apa yang kita cintai itu justru sesuatu yang buruk, dan sebaliknya membenci sesuatu yang sebetulnya baik buat kita (Qs.2:216). Jika tidak demikian, betapa banyak orang yang akan menjadi korban akibat tidak tahu menempatkan arti cinta dan benci ini.

Dalam Islam, cinta seseorang haruslah berlandaskan kepengikutan (ittiba’) dan ketaatan. Sebagaimana firman-Nya, "Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu" (Qs.3:31-32).

Salah satu cinta yang diajarkan Rasulullah SAW. diantaranya adalah, mencintai dan mengasihi sesama. Kecintaan ini, sebagaimana pernah dicontohkan beliau, tak pernah dibedakan antara Muslim dan non-Muslim. Bahkan, tidak dibenarkan jika kita tidak berbuat adil kepada suatu kaum misalnya, hanya karena benci kepada mereka (Qs.5:8).

Ajaran cinta Islami yang mesti disemaikan bukanlah sebatas sesama Muslim. Tetapi justru sesama manusia dan sesama makhluk. Rasulullah SAW. bersabda, "Hakikat seorang Muslim adalah, mencintai Allah dan Rasul-nya, sesamanya, serta tetangganya, melebihi atau sebagaimana ia cinta kepada dirinya sendiri" (HR. Imâm Bukhârî).

Kecintaan yang terekspresikan akan menjadi amal saleh buat pelakunya. Maka dari itu, kecintaan maupun kebaikan, meskipun baru tersirat dalam hati dan belum terlaksana, tetap akan mendapat pahala di sisi Allah. Sebaliknya, kebencian yang tersimpan dalam lubuk hati di samping sebuah kewajaran, juga tidak dicatat sebagai keburukan, hingga niatnya itu betul-betul dilakukan (al-Hadits).

Ekspresi sebuah kebencian tak lain sikap hasud yang dilarang Islam. Hasad adalah iri dan bersikap dengki terhadap orang atau kelompok lain, bahkan sebisa mungkin, berupaya menjatuhkan dan menghilangkan semua kepemilikan seseorang yang dianggap lawannya itu. Dari sini hasud berubah wujud menjadi hasutan, bagaimana merekayasa isu dan gosip tanpa fakta untuk turut meyakinkan orang lain, agar sama-sama membenci bahkan menganiaya orang atau kelompok tertentu.

Benci yang hasud seperti di atas dilarang Rasulullah SAW, sabdanya, "Jauhilah oleh kalian sikap hasud, karena hasud itu niscaya akan memakan amal kebaikanmu layaknya api menghanguskan kayu bakar" (HR. Abû Dâwûd).

Wajah seorang muhâsid (pelaku hasud) tak lain seorang provokator yang senang mengadu-domba antarsesama, menabur fitnah, serta wujud dari kerja sama dalam menebar dosa (al-itsm) dan permusuhan (al-‘udwân). Mereka diancam Nabi SAW. tidak akan masuk surga, karena mencoba memutuskan pertalian kasih dan sayang antarsesama manusia (HR. Bukhârî-Muslim).

Dalam konteks Islam, shilat-u ar-rahmi (shilah, menghubungkan; dan rahmi, berasal dari rahim yang sama) merupakan keharusan menyemaikan perdamaian dan keharmonisan hidup antarinsan. Inilah inti rahmat-an lil-‘âlamîn; mencintai dan membenci karena Allah akan mendatangkan rahmat, sebaliknya, jika sesuai seleranya sendiri, terancam kepedihan azab-Nya. Dalam arti, tidak turunnya rahmat dan bertaburnya benih-benih perpecahan dan perselisihan (Bulûghu ‘l-Marâm, 2000; 496).*

Agar kecintaan tumbuh dan bersemai dalam diri setiap insan, Rasulullah mengajarkan, "Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam (kedamaian), berilah makan orang yang membutuhkan, sambungkanlah tali persaudaraan, dan shalatlah Tahajjud pada sepertiga malam (introspeksi), niscaya kamu akan masuk surga dengan damai" (HR. Imâm Tirmidzî).

Demikian sebaik-baik kecintaan dalam Islam. Kedamaian ditebarkan untuk dan kepada siapa pun. Seorang muslim sejati ialah apabila, orang lain selamat dari ulah lisan, tangan, maupun kewenangannya (Fath-u al-Bârî I; 76-86). Wallâhu a’lam.

Lebih besar mana musibah dunia atau musibah agama?

Jika kita ditanya, apakah musibah terbesar yang menimpa umat manusia? Bayangan kita akan membawa kita kepada bencana stunami di Aceh atau gempa di Jogja beberapa tahun silam, yang menewaskan ribuan jiwa.

Namun jika dicermati dengan kaca mata ukhrawi, orang yang menjadi korban tewas dalam musibah itu belum tentu ia sengsara. Bisa jadi justru ia diselamatkan dari berbagai kesulitan dunia.

Bencana terbesar dalam pandangan keagamaan adalah ketika seseorang terkena musibah agama. Bisa jadi ia termakan oleh syahwat, tertipu dengan teori-teori syubhat, atau tergelincir ke dalam kehidupan maksiat. Itulah musibah terbesar yang menimpa seseorang, karena akan menyebabkan kerugian di akhirat.

Musibah dalam agama adalah akhir dari kerugian, dan tidak ada keuntungan sedikit pun. Itulah sebabnya Rasulullah mengajarkan do’a kepada kita…

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا, وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا, وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا, وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah mengenai agama kami, dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai sebesar-besar keinginan kami dan tujuan akhir dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Al-Qadli Syuraih mengatakan, Sesungguhnya jika aku ditimpa musibah maka aku ucapkan alhamdulillah empat kali; 1) Aku memuji-Nya karena musibah itu tidak lebih buruk dari yang telah terjadi, 2) aku memuji-Nya ketika Dia memberikan aku kesabaran menghadapinya, 3) aku memuji-Nya karena membuatku mampu mengucapkan kalimat istirja (innalillahi wa inna ilaihi rajiun) berharap akan pahala yang besar, dan 4) aku memuji-Nya karena Dia tidak menjadikannya sebuah musibah dalam agamaku.

Marilah kita mengenali beberapa ragam musibah dalam agama ini, supaya kita bisa lebih waspada dalam menjaga kehidupan kita, agar kelak kita bisa tetap membawa Islam ini hingga akhir hayat…

1- Terjerumus ke dalam kemusyrikan.
dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (al-Hajj:31)

Orang yang terjerumus ke dalam kemusyrikan berarti ia telah celaka dan mengalami kehancuran yang tiada henti. Sebab dosa syirik adalah dosa yang tidak ada ampunannya. Firman Allah, “Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An Nisa:116)

2- Terjebak ke dalam kehidupan bid’ah
Syarat diterimanya amal ada dua hal, yaitu ikhlas dan sesuai dengan tuntunan. Niat ikhlas tetapi suatu amal tidak sesuai dengan tuntunan, atau bid’ah, menjadikan amal tidak berguna.

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang megada-adakan sesuatu (ibadah) di dalam urusan kami ini (Islam) padahal ia bukan darinya maka ia tertolak (al-Bukhari dan Muslim)

Sedangkan pelakunya akan mengalami kerugian karena amalnya tidak dinilai oleh Allah. Karena itulah rasulullah saw berwasiat

عن الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ رضي الله عنه أنه قال: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ ، فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً، وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، فَقِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَظْتَنَا مَوْعِظَةَ مُوَدِّعٍ، فَاعْهَدْ إِلَيْنَا بِعَهْدٍ”، فَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلاَفًا شَدِيدًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَالأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة (أخرجه ابن ماجة)

Dari Irbadl bin Sariyah ra, ia berkata; Pada suatu hari Rasulullah berdiri di tengah-tengah kami, lalu beliau memberi nasihat kepada kami, nasihat yang menggetarkan hati dan membuat mata berlinang air mata, lalu salah seorang shahabat bertanya kepada beliau, Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Maka beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi (Etiopia). Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa`ur Rasyidin yang mendapat petunjuk (yang datang sesudahku), gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidziy)

3- Meninggalkan ibadah dan terbiasa dengan maksiat
Musibah terbesar lainnya, adalah ketika seseorang dengan mudah meninggalkan ibadah kepada Allah yang telah ditetapkan di dalam syari’at. Berapa banyak orang yag telah mengaku dirinya muslim, tetapi tidak mau menunaikan kewajiban shalat. Dan berapa banyak orang shalat, yang tidak mau ke masjid untuk menunaikan shalat secara berjama’ah.

Sebagian di antara kaum muslimin terjebak ke dalam pemahaman bahwa shalat berjama’ah hanyalah sebuah keutamaan saja, bukan kewajiban. Itulah syubhat, atau kerancuan pemahaman. Jika memang shalat berjama’ah hanyalah sebuah keutamaan saja, maka tentunya Abdullah ibnu Ummi Maktum, seorang yang buta, akan diizinkan oleh Rasulullah untuk tidak hadir di masjid untuk shalat berjama’ah. Kenyataannya, meskipun beliau buta, jalan masih banyak binatang melata, tidak ada orang yang menuntunnya ke masjid, beliau tidak mengizinkan Ibnu Ummi maktum untuk shalat seorang diri di rumahnya.

Para shahabat adalah orang-orang yang sangat memperhatikan shalat berjama’ah ini. Bahkan mereka senantiasa berusaha agar tidak terlambat bertakbiratul ihram bersama dengan Imam. Mereka menganggap tidak menunaikan shalat secara berjama’ah sebagai sebuah musibah besar. Hatim al-Asham mengatakan, “Musibah agama itu lebih besar daripada musibah dunia. Ketika anak putriku meninggal lebih dari sepuluh ribu orang bertakziah, tetapi kenapa ketika akau tertinggal dari shalat berjama’ah tidak ada seorang pun yang bertakziah?”

Meninggalkan ibadah karena sesuatu dunia yang mubah adalah suatu musibah besar, kecelakaan besar. Tetapi masih ada kecelakaan dan musibah yang lebih besar lagi, yaitu orang meninggalkan kewajiban syari’at hanya karena mengejar kemaksiatan. Seseorang meninggalkan shalat karena asyik dengan perjudiannya. Tidak berpuasa, karena asyik dengan minuman kerasnya. Tidak berjama’ah karena sibuk berpacaran, enggan mendatangi pengajian karena berat meninggalkan sinetron, dan seterusnya.


4- Tidak bersabar atas musibah dunia yang menimpanya
Berbicara tentang sabar, kadang-kadang orang mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya. Ini adalah ungkapan orang yang sudah tidak mampu lagi bersabar. Allah mengajarkan kesabaran dan tidak pernah memberikan batas. Ini maknanya, bersabar itu harus dilakukan terus sehingga Allah mengganti musibah dengan kenikmatan.

Orang yang mengatakan sabar ada batasnya, sesungguhnya ia tidak faham makna sabar. Sabar adalah pengakuan seorang hamba, bahwa segala musibah itu adalah dari Allah, karena itulah ia tanggung segala cobaan ini dengan mengharap pahala dari Allah.
Dengan penjelasan makna sabar seperti ini, orang yang tidak mau bersabar terhadap cobaan dunia yang menimpanya, maka musibah itu bisa berpindah kepada agamanya. Sebab di dalam ketidak sabaran terhadap musibah itu terkandung sikap berpaling dan ingkar tehadap taqdir yang ditetapkan oleh Allah swt. Apalagi jika ia tertimpa musibah lalu mengadu ke dukun, ini adalah kebodohan dan musibah yang amat besar. Seorang ulama’ mengatakan, ”Orang yang bodoh adalah mengadukan Allah kepada makhluk. Ini adalah kebodohan yang luar bisa terhadap siapa yang diadukan dan yang dijadikan tempat mengadu. Yang diadukan adalah Dzat yang Maha sempurna, tempat mengadunya kepada makhluk yang lemah dan penuh kekurangan. Akankah kita mengadukan dzat yang Maha penyayang kepada orang yang tak bisa memberikan kasih sayang? Akankah kita mengadukan Dzat yang sempurna kepada makhluk yang terbatas? Akankah kita mengadukan Dzat yang Maha Perkasa kepada makhluk yang lemah?

Marilah kita telaah kembali diri kita masing-masing. Marilah kita cermati hati kita masing-masing. Jika masih ada potensi-potensi untuk munculnya musibah keagamaan di dalam diri kita, marilah segera kita bersihkan. Kita cuci hati dan jiwa kita, semoga Allah memberikan hidayah, Allah menuntun kita di jalanNya yang lurus. Agar kita senantiasa meniti jalan lurus itu hingga akhir hayat kita.

”Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan janganlah sekali-kali kamu mati, kecuali kalian menganut agama Islam”

Khalifah Umar Bin Khattab dan Penggali Parit

Umar bin Khattab tidak saja di kenal sebagai khalifah yang berwibawa, tapi juga sederhana dan merakyat. Untuk mengetahui keadaan rakyatnya, Umar tak segan-segan menyamar jadi rakyat biasa.

Ia sering berjalan-jalan ke pelosok desa seorang diri. Pada saat seperti itu tak seorang pun mengenalinya bahwa ia sesungguhnya kepala pemerintahan. Kalau ia menjumpai rakyatnya sedang kesusahan, ia pun segera memberi bantuan.

Umar sadar, apa yang ada di tangannya saat itu bukanlah miliknya melainkan milik rakyat. Untuk itu Umar melarang keras anggota keluarganya berfoya-foya. Ia selalu berhemat dalam menggunakan keperluannya sehari-hari. Karena hematnya, untuk menggunakan lampu saja keluarga amirulmukminin ini amat berhati-hati. Lampu minyak itu baru dinyalakan bila ada pembicaraan penting. Jika tidak, lebih baik tidak pakai lampu.

“Anak-anakku, lebih baik kita bicara dalam gelap. Sebab, minyak yang digunakan untuk menyalakan lampu ini milik rakyat!” sahut khalifah ketika anaknya ingin bicara di tengah malam.

Dalam hidupnya, Umar senantiasa memegang teguh amanat yang diembankan rakyat di pundaknya. Pribadi Umar yang begitu mulia terdengar dimana-mana. Seluruh rakyat sangat menghormatinya. Rupanya, cerita tentang keagungan Khalifah Umar ini terdengar pula oleh seorang raja negara tetangga. Raja tertarik dan ingin sekali bertemu dengan Umar.

Maka pada suatu hari dipersiapkanlah tentara kerajaan untuk mengawalnya berkunjung ke pemerintahan Umar. Ketika raja itu sampai di gerbang kota Madinah, dilihatnya seorang lelaki sedang sibuk menggali parit dan membersihkan got di pinggir jalan. Lalu, di panggilnya laki-laki itu.

“Wahai saudaraku!” seru raja sambil duduk di atas pelana kuda kebesarannya.

“Bisakah kau menunjukkan di mana letak istana dan singgasana Umar?” tanyanya kemudian. Lelaki itu segera menghentikan pekerjaannya. Lalu, ia memberi hormat.

“Wahai Tuan, Umar manakah yang Tuan maksudkan?” si penggali parit balik bertanya.” Umar bin Khattab kepala pemerintahan kerajaan Islam yang terkenal bijaksana dan gagah berani,” kata raja. Lelaki penggali parit itu tersenyum. “Tuan salah terka. Umar bin Khattab kepala pemerintahan Islam sebenarnya tidak punya istana dan singgasana seperti yang tuan duga. Ia orang biasa seperti saya,” terang si penggali parit,”.

“Ah benarkah? Mana mungkin kepala pemerintahan Islam yang terkenal agung seantero negeri itu tak punya istana?” raja itu mengerutkan dahinya.

“Tuan tidak percaya? Baiklah, ikuti saya,” sahut penggali parit itu.

Lalu diajaknya rombongan raja itu menuju “istana” Umar. Setelah berjalan menelusuri lorong-lorong kampung, pasar, dan kota, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Diajaknya tamu kerajaan itu masuk dan dipersilakannya duduk. Penggali parit itu pergi ke belakang dan ganti pakaian. Setelah itu ditemuinya tamu kerajaan itu. “Sekarang antarkanlah kami ke kerajaan Umar!”kata raja itu tak sabar.

Penggali parit tersenyum. “Tuan raja, tadi sudah saya katakan bahwa Umar bin Khattab tidak mempunyai kerajaan. Bila tuan masih juga bertanya di mana letak kerajaan Umar itu, maka saat ini juga tuan-tuan sedang berada di dalam istana Umar!”

Hah?!” Raja dan para pengawalnya terbelalak. Tentu saja mereka terkejut. Sebab, rumah yang di masukinya itu tidak menggambarkan sedikitpun sebagai pusat kerajaan. Meski rumah itu tampak bersih dan tersusun rapi, namun sangat sederhana.

Rupanya raja tak mau percaya begitu saja. Ia pun mengeluarkan pedangnya. Lalu berdiri sambil mengacungkan pedangnya.

“Jangan coba-coba menipuku! Pedang ini bisa memotong lehermu dalam sekejap!” ancamnya melotot.

Penggali parit itu tetap tersenyum. Lalu dengan tenangnya, ia pun berdiri.” Di sini tidak ada rakyat yang berani berbohong. Bila ada, maka belum bicara pun pedang telah menebas lehernya. Letakkanlah pedang Tuan. Tak pantas kita bertengkar di istana Umar,” kata penggali parit. Dengan tenang ia memegang pedang raja dan memasukkannya kembali pada sarungnya.

Raja terkesima melihat keberanian dan ketenangan si penggali parit. Antara percaya dan tidak, dipandanginya wajah penggali parit itu. Lantas, ia menebarkan kembali pandangannya menyaksikan “istana” Umar itu. Muncullah pelayan-pelayan dan pengawal-pengawal untuk menjamu mereka dengan upacara kebesaran. Namun, raja itu belum juga percaya.

“Benarkah ini istana Umar?”tanyanya pada pelayan-pelayan.

“Betul, Tuanku, inilah istana Umar bin Khattab,” jawab salah seorang pelayan.

“Baiklah,” katanya. Raja memang harus mempercayai ucapan pelayan itu.

“Tapi, dimanakah Umar? Tunjukkan padaku, aku ingin sekali bertemu dengannya dan bersalaman dengannya!” ujar sang raja.

Dengan sopan pelayan itu pun menunjuk ke arah lelaki penggali parit yang duduk di hadapan raja.” Yang duduk di hadapan Tuan adalah Khalifah Umar bin Khattab” sahut pelayan itu.

“Hah?!” Raja kini benar-benar tercengang. Begitu pula para pengawalnya.

“Jad…jadi, anda Khalifah Umar itu…?” tanya raja dengan tergagap.

Si penggali parit mengangguk sambil tersenyum ramah.

“Sejak kita pertemu pertama kali di pintu gerbang kota Madinah, sebenarnya Tuan sudah berhadapan dengan Umar bin Khattab!” ujarnya dengan tenang.

Kemudian raja itu pun langsung menubruk Umar dan memeluknya erat sekali. Ia sangat terharu bahkan menangis melihat kesederhanaan Umar. Ia tak menyangka, Khalifah yang namanya disegani di seluruh negeri itu, ternyata rela menggali parit seorang diri di pinggir kota.

Sejak itu, raja selalu mengirim rakyatnya ke kota Madinah untuk mempelajari agama Islam.

Design By Hernha